Trails Beyond the Horizon: Eksperimen JRPG Berani
www.foox-u.com – Trails Beyond the Horizon hadir sebagai JRPG baru yang mengusung combat hybrid real-time dan turn-based ala Metaphor ReFantazio. Kombinasi aksi langsung dengan elemen strategi berbasis giliran memberi pengalaman berbeda bagi penggemar JRPG klasik maupun pemain baru. Namun di balik sistem tempur yang seru, alur cerita terasa kurang rapi sehingga meninggalkan kesan campur aduk.
Artikel ini membahas seberapa jauh Trails Beyond the Horizon berhasil memadukan sistem hybrid tersebut dengan identitas JRPG tradisional. Kita akan menelaah aspek combat, ritme eksplorasi, serta cara narasi bergerak mengiringi petualangan. Sebagai pemain yang menyukai JRPG taktikal, saya merasa game ini menarik, tetapi tidak lepas dari kompromi desain yang cukup terasa.
Trails Beyond the Horizon memposisikan diri sebagai JRPG yang ingin menjangkau dua kubu pemain sekaligus. Di satu sisi, game ini merayu penggemar aksi real-time melalui pertarungan cepat penuh efek visual. Di sisi lain, penggemar turn-based memperoleh ruang pengambilan keputusan strategis. Pendekatan hybrid seperti ini mirip Metaphor ReFantazio, namun Trails Beyond the Horizon mengambil jalur lebih eksperimental, terutama pada tempo pertarungan serta transisi antarmode.
Setiap pertemuan musuh dimulai dengan fase real-time yang menuntut reaksi gesit. Pemain dapat mengelak, memancing posisi lawan, maupun memberi serangan pembuka. Setelah kondisi tertentu terpenuhi, sistem beralih menuju mode turn-based. Di sinilah ritme berubah menjadi lebih metodis. Pemain menyusun urutan skill, mengatur buff, serta mempertimbangkan urutan target secara cermat. Perpaduan dua fase tersebut menciptakan sensasi naik turun tempo yang menarik sekaligus melelahkan.
Bagi saya, daya tarik utama Trails Beyond the Horizon terletak pada rasa kontrol penuh terhadap arena. Saat fase real-time, saya bebas mengatur jarak serta sudut serangan. Begitu memasuki mode turn-based, semua keputusan tadi terasa berbuah lewat persentase hit, bonus posisi, maupun kombo antar karakter. Sensasi ini memberi ilusi bahwa setiap giliran adalah hasil kerja keras beberapa detik sebelumnya. Namun sayangnya, tidak semua pemain akan menyukai frekuensi peralihan mode yang cukup sering.
Jika pernah melihat Metaphor ReFantazio, konsep hybrid Trails Beyond the Horizon terasa cukup familiar. Perbedaan utamanya terletak pada porsi fokus. Di Metaphor, real-time menjadi pintu pembuka cepat sebelum sistem turn-based mengambil alih dominasi. Trails Beyond the Horizon lebih berani memberi ruang pada aksi langsung. Musuh bereaksi terhadap posisi, lingkungan, bahkan pola serangan tertentu. Sehingga, fase pertama pertarungan terasa penting, bukan sekadar formalitas.
Pada sisi turn-based, game ini mengadopsi struktur JRPG klasik namun dengan sedikit sentuhan modern. Setiap karakter mempunyai role jelas, semisal tanker, support, atau damage dealer. Skill mereka sering kali bersinergi, misalnya efek debuff yang memicu serangan lanjutan saat karakter lain menyerang musuh terpengaruh status tersebut. Sistem kombo menambah kedalaman taktik, membuat pemain terdorong merancang urutan aksi spesifik sebelum memicu giliran lawan.
Dari sudut pandang pribadi, sistem hybrid Trails Beyond the Horizon terasa seperti eksperimen yang berani namun belum sepenuhnya matang. Saya menyukai ketegangan saat harus memutuskan apakah perlu bertahan di fase real-time lebih lama demi posisi ideal. Namun transisi menuju mode turn-based kadang muncul pada momen kurang pas, merusak ritme pribadi yang sudah terbangun. Hal ini memicu kebingungan singkat, terlebih ketika efek visual cukup ramai sementara informasi penting muncul serentak.
Di balik sistem combat menggiurkan, Trails Beyond the Horizon memikul narasi yang potensial namun kurang terstruktur. Premis utama seputar perjalanan melampaui batas cakrawala memiliki nuansa epik, namun penyajian detail kerap melompat dari satu konflik ke konflik lain tanpa jembatan emosional kuat. Karakter pendukung memperoleh latar menarik, sayangnya pengembang tampak tergesa menumpuk plot twist tanpa ruang refleksi. Sebagai pemain, saya merasa hubungan antara misi sampingan, perkembangan dunia, serta klimaks utama kurang terikat rapi. Game ini tetap menyuguhkan momen emosional menyentuh, namun dampaknya berkurang akibat penempatan adegan yang tidak konsisten. Pada akhirnya, Trails Beyond the Horizon menjadi JRPG dengan combat hybrid real-time dan turn-based paling seru tahun ini, tetapi juga contoh bagaimana ambisi mekanik bisa mengaburkan fokus alur cerita. Refleksi terbesar saya setelah menuntaskan permainan ini: terkadang, keberanian bereksperimen perlu diimbangi kurasi narasi lebih ketat agar petualangan tidak sekadar luas, melainkan juga meninggalkan kesan mendalam.
www.foox-u.com – Year in Review 2025 terasa seperti rangkaian kembang api yang tak henti. Setiap…
www.foox-u.com – BenQ W4100i hadir sebagai proyektor yang merangkum keahlian gaming serta fitur streaming cerdas…
www.foox-u.com – Pasar VR dan Hardware imersif bergerak cepat, namun arah inovasinya sering terasa membingungkan.…
www.foox-u.com – Analogue 3D berhasil mencuri perhatian sebagai cara terbaik menikmati game N64 dengan teknologi…
www.foox-u.com – BL4 kembali ramai dibahas, terutama oleh pemain yang suka tantangan serta eksplorasi sistem…
www.foox-u.com – Donkey Kong Bananza mulai ramai dibicarakan sebagai calon game Switch 2 terbaik 2025.…